Langsung ke konten utama

Semester 2



Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum

OLEH

Bintang Sandra Yunita Butar-Butar

1712312021

Program Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik


Abstrak


Kata klasifikasi tidak muncul secara mendadak, melainkan hadir melalui suatu proses mulai dari pengetahuan sehari-hari dan dengan melalui pengujian secara cermat dan pembuktian dengan teliti diperoleh terhadap suatu teori, dan pengujian suatu teori tersebut dapat dilakukan dan babak terakhir akan dapat ditemukan hukum-hukum dari klasifikasi tersebut. Tujuan dari pembuatan penulisan makaah ini adalah untuk dapat mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana saja perkembangan dan sejarah dari klasifikasi
Sejarah sebagai maniestasi ilmu pengetahuan telah meletakkan dasar-dasar tradisi intelektual yang diawali oleh Aristoteles dimulai pada abad ke 384 SM sampai pada abad ke 322 SM. Dalam perkembangannya sejarah mengantarkan lahirnya suatu klasifikasi yang menunjukkan bagaimana cabang-cabang ilmu pengetahuan melepaskan diri dari keterkaitannya terhadap yang lain. Klasifikasi tersebut memiliki cara masing-masing secara mandiri dan berkembang menurut metodologinya secara sendiri-sendiri. Paper ini membahas tentang kelahiran dan perkembangan ilmu klasifikasi.

Kata Kunci : Sejarah Ilmu, Perkembangan dan Klasifikasi


Latar Belakang

            Pada awal sejarah berkembangnya klasifikasi dikenal melalui klasifikasi tumbuhan, hewan dan klasifikasi makhluk hidup. Menurut beberapa ahli sejarah tentang perkembangan klasifikasi, diantaranya yaitu :
·         Aristoteles (384 – 322 SM), mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikelompokkan menjadi herba, semak dan pohon. Sedangkan hewan digolongkan menjadi vertebrata dan avertebrata.
·         John Ray (1627 – 1708), mengelompokkan makhluk hidup kearah grup-grup kecil. Ia telah melahirkan konsep tentang jenis dan spesies.
·         Carolus Linnaeus (1707 – 1778), mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada kesamaan struktur. Ia juga mengenalkan pada sistem tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial nomenklatur.
Klasifikasi ilmiah adalah cara ahli biologi mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun yang hidup. Jadi menurut kesimpulan yang didapat, klasifikasi adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Klasifikasi makhluk hidup ini memiliki tujuan yaitu untuk mempermudah mengenali, membandingkan dan mempelajari makhluk hidup.
Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang memiliki ciri yang sama dikelompokkan pada satu golongan. Biasanya, para ahli Biologi membuat cabang Biologi khusus mengenai klasifikasi makhluk hidup yang dapat disebut sebagai Taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang mengidentifikasi tentang tatanama dan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan aturan tertentu. Seperti yang diketehui klasifikasi makhluk hidup menggunakan dasar atau ketentuan tertentu, yaitu persamaan ciri atau sifat morfologi, fisiologi dan anatomo yang terdapat pada makhluk hidup itu sendiri. Sistem klasifikasi makhluk hidup terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di Taksonomi. Pada zaman ini, telah diketahui adanya 3 sistem klasifikasi makhluk hidup yaitu :
  1. -       Sistem Alami
  2. -       Sistem Artifisial (Buatan)
  3. -       Sistem Filogenetik

Makhluk hidup yang ada dibumi sangat banyak dan beranekaragam. Bahkan di setiap daerah-daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri atau jenis makhluk hidup yang khas dan berbeda dengan makhluk hidup lainnya dan jarang atau bahkan ada yang sama. Tetapi dengan adanya keanekaragaman makhluk hidup ini yang dapat memaju suatu masalah dalam mengenal dan mempelajari nya.  Dengan demikian, diperkukan suatu sistem yang mengatur keanekragaman yang ada pada saat ini. Ilmu Taksonomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi, identifikasi dan tatanama makhluk hidup. Seperti yang kita ketahui, dengan adanya masalah keanekaragaman Tokoh Yunani mencetuskan mengenai Ilmu Taksonomi tersebut adalah Theoprates pada tahun 370-285 SM yang kemudian dikembangkan oleh salah satu tokoh dari Swedia.
Pada umumnya klasifikasi memiliki pengertian yang secara khusus dengan mudah dimengerti. Klasifikasi menurupaan suatu cara penyusunan, penggolongan ataupun pengelompokkan sesuatu golongan atau sesuatu jenis agar menjadi sistematis. Klasifikasi ini memiliki tujuan berupa untuk mempermudah pengenalan dan pembelajaran terhadap makhluk hidup dan dapat mempermudah dalam berkomunikasi kepada orang lain. Klasifikasi banyak diterapkan dalam berbagai kegiatan manusia.


Pengertian Klasifikasi

Menurut Wikipedia, klasifikasi merupakan kata serapan dari Bahasa Belanda, classificatie yang sendirinya berasal dari Bahasa Prancis classification. Istilah ini menunjukkan kepada sebuah metode untuk menyusun data secara sistematis atau menurut beberapa aturan atau kaidah yang telah ditetapan sebelumnya. Secara harafiah dapat dikatakan bahwa klasifikasi adalah pembagian sesuatu menurut kelas-kelas. Sedangkan menurut Ilmu Pengentahuan, klasifikasi adalah proses pengelompokkan benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan tertentu. Secara harafiah bias pula dikatakan Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur.
Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus.  Klasifikasi ilmiah menunjuk bagaimana seorang ahli biologi mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun yang hidup. Klasifikasi modern berakar pada sistem Carolus Linnaeus, yang mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki. Pengelompokan ini sudah direvisi sejak Carolus Linnaeus untuk menjaga konsistensi dengan asas sifat umum yang diturunkan dari Darwin. Mempelajari jenis-jenis makhluk hidup tidak mudah dan dipastikan kita harus mengetahui dan mengenal apa-apa saja yang menjadi pengelompokkan makhluk hidup.


Perkembangan Klasifikasi

Pada masa sejarah dan perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup dibagi menjadi 6 sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam penyusunan klasifikasi, adapun pembagian tersebut yaitu:
Ø  Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua
Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua.
Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran sekarang.

Ø  Periode system Habitus/ Bentuk
Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) seorang murid dari filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang semashur yaitu plato. Aristoteles adalah filusuf Yunani (384-422) adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi hewanberdasarkan ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan tang dikenalnya. Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi. Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna.
System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan.
Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial). Theophrastes juga telah dapat membedakan bunga majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal), juga telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas (polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang tenggelam dan yang menumpang.

Ø  Periode Sistem Buatan/ Artificial
Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang murni artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan. Sistem ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan antara tumbuhan. Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linneaus) Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama kali mengenai seksualitas tumbuhan.
Setelah menjadi dosen ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus Uplandikus yang memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala, yang susunannya mengikuti sistem de Tournefort. Karena jumlah tumbuhan dikebun raya tadi makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikusedisi baru yang disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema Sexsuale atau sistem seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson menawarkan kepada Linneaus untuk membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae yang memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun 1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera Plantarum dan Flora Lavonica sambil menunggu pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi kesempatan oleh Clifford untuk berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama sembilan bulan ia menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis tumbuhan yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda dari tahun 1737 sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus.
Kurang lebih ada 14 judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan ketika ia masih di Swedia. Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari linneaus selain spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia mengundurkan diri sebagai guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia setelah menderita sakit selama kurang lebih 2 tahun (10 januari 1778). Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan Linnaeus ini meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunyapinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai “Bapak Taksonomi”  baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne.

Ø  Periode Sistem Alamiah
Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Ø  Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “. Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.

Ø  Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika yang dalam abad nuklir maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri. Pengolahan data secara elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.


Penerapan Klasifikasi pada Perpustakaan

Bermula dari kegiatan sehari – hari, klasifikasi menjadi sesuatu yang sangat penting. Klasifikasi sangat diperlukan dalam perpustakaan karena  klasifikasi dapat mempermudah pustakawan maupun pengunjung dalam mencari buku ataupun menata buku. Ini jelas terjadi, karena jika  klasifikasi tidak diterapkan di perpustakaan maka buku – buku yang  berbeda  jenis akan dicampur adukkan sehingga membutuhakan waktu yang  cukup lama dalam mencari buku yang diinginkan.
Terbukti dengan semakin berkembangnya perpustakaan yang  mengembangkan klasifikasi membuat para pengunjung perpustakaan semakin puas dalam mencari buku. Informasi dan perpustakaan sangat erat kaitannya, karena dalam perpustakaan informasi merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh pustakawan ataupun perpustakaan itu sendiri. Seseorang yang membutuhkan pengetahuan ataupun informasi akan keperpustakaan untuk mendapatkannya.Sehingga klasifikasi dalam informasi dan perpustakaan sangat penting dan perlu terus diterapkan. Dalam kegiatan manusia, teknologi informasi menjadi suatu kegiatan yang sudah sangat biasa dilakukan.
Seiring perkembangan zaman yang terjadi. Teknologi informasi merupakan teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan informasi. Namun teknologi informasi juga dapat menimbulkan masalah  diantarannya hak cipta, perlindungan data, transborder data flow, dan pengangguran. Maka pengarsipan data dan teks merupakan tugas tradisional perpustakaan. Perpustakaan bertugas menyimpan kumulasi pengetahuan masyarakat sekitar. Disamping itu juga perpustakaan juga bertugas untuk mempersiapkan cantuman bibliografi dari dokumen berisi pengetahuan yang dihasilkan masyarakat. Perpustakaan yang merupakan tempat untuk meminjam buku, file, data – data dan juga tempat untuk mencari informasi. Perpustakaan juga merupakan tempat untuk menyimpan karya tulis ataupun ilmu pengetahuan lainnya.
Dengan hal ini, perpustakaan merupakan tempat yang sangat penting yang harus ada, karena perpustakaan merupakan tempat gudangnya ilmu pengetahuan. maka dari itu, sangat pentingnya dilakukan klasifikasi data- data yang ada di perpustakaan untuk mempermudahnya kegiatan di perpustakaan. Penerapan klasifikasi pada perpustakaan dimulai dari hal yang sederhana, dimana saat itu masih dilakukan pengelompokkan buku – buku secara sederhana. Setelah itu barulah terciptanya sistem DDC. DDC merupakan singkatan dari Dewey Decimal Classification.
 DDC merupakan klasifikasi ciptaan abad ke-19 yang dibuat atas prinsip taksonomis dan hirarkhis. DDC menduduki peringkat pertama yang paling banyak digunakan. DDC merupakan klasifikasi yang digunakan pada perpustakaan, bukan klasifikasi yang digunakan untuk ilmu pengetahuan lainnya. Perkembangan klasifikasi yang begitu pesat membuat terjadi perubahan – perubahan yang ada pada klasifikasi. Ini membuat beberapa perbedaan yang terjadi pada klasifikasi tradisional dengan klasifikasi modern. Klasifikasi tradisonal cenderung untuk mendaftar ( to enumerate ) semua subjek dan subdivisi subjek serta menyatakan simbol bagi setiap subjek. Klasifikasi ini disebut klasifikasi enumeratif. Contohnya yaitu Library of Congress Classification. Sedangkan untuk klasifikasi modern menekankan pentingnya faset analisis dan sintesis, klasifikasi ini disebut klasifikasi berfaset. Contohnya yaitu Colon Classification atau klasifikasi analisi dan sintesis.
Penggunaan DDC tidak sembarangan dapat digunakan oleh perpustakaan. Karena dalam DDC, perpustakaan harus mengikuti unsur – unsur yang berlaku dalam menggunakan DDC. Hal ini tentunya harus sangat diperhatikan dalam penggunaannya, agar nanti tidak mengalami kendala – kendala yang dapat menghambat dalam penggunaan DDC. Unsur – unsur yang harus dipenuhi dalam penggunaan DDC ( Noprianto, 2014 ) yaitu :
v  Sistem pembagian ilmu pengetahuan yang dimasukkan dalam bagan harus mempunyai landasan prinsip-prinsip tertentu.
v  Notasi, ini merupakan rangkaian simbol seperti angka dan harus mencerminkan istilah yang terdapat dalam bagan, pada  DDC ini dikenal dengan nomor kelas.
v  Indeks relatif, rincian dari sejumlah tajuk yang disusun secara alfabetis.
v  Tabel pembantu, menerang rangkaian notasi khusus untuk menyatakan aspek tertentu dalam subjek yang berbeda. Sistem klasifikasi juga perlu menyediakan kelas karya umum, seperti karya yang cakupannya begitu luas.
Sebagai sarana pengaturan pustaka dirak, klasifikasi memiliki 2 tujuan yaitu:
·         Membantu pemakai mengidentikkan  dan melokalisasi sebuah dokumen berdasarkan nomor panggil.
·         Mengelompokkan semua dokumen sejenis menjadi satu. Tujuan dari klasifikasi tersebut membutuhkan karakteristik tertentu untuk  mengumpulkan bahan pustaka menjadi satu. Misalnya pengelompokkan berdasarkan nama pengarang.

            Dalam perpustakaan klasifikasi bertujuan untuk menghasilkan urutan dokumen yang bermanfaat bagi staf ataupun pemakai perpustakaan, penepatan dokumen yang tepat, maksudnya ketika suatu dokumen/buku diambil, dan akan terjadi kekosongan didalam rak yang mengharuskan klasifikasi menyusun kembali, Penyusunan mekanisme, maksudnya dimana pustakawan mampu menyisipkan dokumen baru diantara dokumen lama, Tambahan dokumen baru, dimana pustakawan harus mengklasifikasi dokumen baru dengan menentukan lokasi yang tepat antara disisipkan diantara subjek yang telah ada ataupun membuat yang baru.  

Sehingga dalam dunia perpustakaan sangat diperlukannya klasifikasi yang nantinya sangat berguna untuk mempermudah kegiatan diperpustakaan. Hal tersebut membuktikan jika klasifikasi sangat penting dilakukan. Dengan melihat dari hal tersebut, bahwa klasifikasi berawal dari kegiatan sehari – hari manusia dalam mengelompokkan suatu benda atau yang lainnya sehingga dapat mempermudah kegiatannya yang terus  berkembang hingga diterapkan dalam instansi – instansi bahkan juga digunakan di perpustakaan.

Kesimpulan
            Berdasarkan dari pembahasan makalah yang ada diatas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi merupakan bentuk dari kegiatan/aktivitas manusia yang berawal dari dalam kehidupan sehari-hari agar lebih dapat mempermudah kegiatannya tersebut. Klasifikasi bertujuan untuk menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaragaman dan keseragaman.
Kesamaan-kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit yang mempunyai sejumlah kesamaan-kesamaan sifat. Klasifikasi makhluk hidup juga merupakan pengelompokkan makhluk hidup berdasarkan jenis dan cara mereka berkembang biak.
           
Saran
Saran saya kepada pembaca agar lebih belajar buat mengetahui bagaimana dan sudah sampai dimana saja perkembangan mengenai klasifikasi itu sendiri, terutama pada klasifikasi makhluk hidup. Karena begitu banyak keanekaragaman yang ada di Indonesia ini dan mempelajari klasifikasi tidaklah mudah. Tetapi dengan adanya klasifikasi makhluk hidup ini kita lebih mudah mengetahui jenis-jenis apa saja yang sudah ada di muka bumi ini.

Daftar Pustaka
Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Aristo, Mukhamad. Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup dan Sejarahnya. Diakses 8 Februari 2018

Dedi. Sejarah Klasifikasi. Diakses 9 Februari 2018 http://dedispd.blogspot.co.id/2010/06/sejarah-klasifikasi.html



Perbedaan Klasifikasi dan Katalogisasi









Manfaat Katalog : Dulu dan Kini

OLEH

Bintang Sandra Yunita Butar-Butar

1712312021

Program Studi D3 Perpustkaan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik


Abstrak

Katalog perpustakaan merupakan suatu media yang dapat menampilkan informasi sejumlah koleksi perpustakaan dan dengan mencari buku pada katalog yang terdapat di perpustakaan maka informasi mengenai buku yang dicari dapat diperoleh dengan mudah. Tetapi, terkadang terdapat suatu masalah ketika ingin memperoleh informasi tentang buku yang sedang dicari.
Berdasarkan pembuatan paper ini memiliki tujuan, diantaranya adalah agar pemanaatan katalog semakin dapat dimengerti dan dapat menjadi sumber informasi, agar dapat mengetahui bahwa katalog sebaagai tempat penyimpanan buku di rak dan untuk mengetahui koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan.  

Kata Kunci : Katalog, Informasi dan Perpustakaan


Latar Belakang
Secara etimologis, katalog berasal dari bahasa latin “catalogus” yang berarti daftar barang atau benda yang disusun untuk tujuan tertentu. Sedangkan menurut KBBI Offline, katalog adalah carik kartu, daftar, atau buku yang memuat nama benda atau informasi tertentu yang ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur dan alfabetis. Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 315), “katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi”.
Daftar menunjukkan susunan menurut prinsip tertentu dan sedangkan buku mencakup arti buku dalam arti luas”. Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Listariono (2011) katalog perpustakaan merupakan daftar buku atau bahan pustaka bentuk yang lain. Dalam katalog ini dimuat tentang nama pengarang, judul buku, edisim cetakan, kota terbit, penerbit dan tahun terbit. Dengan katalog perpustkaan ini pengguna perpustkaan dapat memperoleh sumber informasi yang dimiliki oleh perpustakaan.
Katalog adalah daftar koleksi sebuah pusat dokumentasi atau beberapa pusat dokumentasi yang disusun menurut sistem tertentu. Daftar tersebut dapat berbentuk kartu, lembaran, buku ataupun bentuk lainnya, yang memuat informasi mengenai pustaka atau kepustakaan yang terdapat di perpustakaan atau unit informasi. Adapun keterangan-keterangan yang dituliskan pada katalog adalah sebagai berikut :
§  Nama lengkap (dengan gelar-gelar kebangsawannya) dari si pengarang atau yang dianggap pengarang
§  Judul buku, jika ada judul tambahannya serta edisi
§  Tempat penerbit dan nama penerbitnya
§  Tahun terbit atau copy-right datenya
§  Jumlah halaman pendahuluan (angka romawi) dan jumlah halamana isi (angka arab). Jumlah halaman bisa diganti dengan jumlah jilid yang ada, jika buku-buku itu berjilid
§  Keterangan (notes) contoh: app;digr;graf
§  Keterangan tentang halaan bibliografi
§  Call-number buku (biasanya ditentukan pada awal proses buku)
§  Nomor stambuk buku (pada pinggir kiri bawah kartu)
§  Tracing
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa katalog perpustakaan adalah daftar yang berisi seluruh berbagai koleksi di perpustakaan yang disusun menurut sistem tertentu melalui cantuman bibliograis sehingga diharapkan para pemustaka dan pustakawan dapat menemukan bahan perpustakaan yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat.


Sejarah dan Perkembangan Katalog
Pada tahun 1914 Angkatan Laut Amerika mulai embuat daftar barang-barang militer. Daftar ini kemudian dipublikasikan oleh “Naval Depot Supply and Stock Catalog”. Meskipun katalog tersebut masih merupakan tindakan percobaan, namun Angkatan Laut Amerika merasakan bahwa manfaat katalog tersebut sangat besar dalam penentuan perang dunia I. Dari pengalaman perang ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem katalog yang seragam akan sangat bermanfaat. Pada tahun 1929, sistem katalog yang tadinya dimulai di Angkatan Laut, kemudian berkembang dilingkungan pemerintah Amerika. Pada tahun ini pula Presiden Hoover memutuskan bahwa “Federal Standard Stock Catalog” untuk pemerintah berada dalam Departemen Keuangan. Pada saat itu di lingkungan militer, tidak terdapat barang-barang umum. Sedangkan dinas-dinas lainnya mengidentifikasi dan mengklarifikasi barang dengan cara sendiri-sendiri dengan sistem yang berbeda. Yang penting beberapa instasi ini mempunyai katalog barang mereka sendiri.
Pada tahun 1932 Presiden Roosevelt berusaha menggembangkan sistem katalog di Amerika yang seragam. Dan pada tahun 1935 Presiden memutuskan suatu peraturan bahwa “Federal Standard Stock Catalog” diberikan untuk seluruh negara Amerika, ini berarti bahwa sistem catalog yang seragam mutlak perlu dilaksanakan dalam setiap Departemen. Dengan demikian, setiap departemen dalam hal pemberian nama, diskripsi, klasifikasi serta penomoran barang dalam sistem katalog harus menggunakan cara yang seragam dengan ketetntuan ini sistem katalog di Amerika sudah berjalan, namun kenyataannya masing-masing instansi masih menggunakan caranya sendiri dalam mengkatalogkan barang. Sistem ini berlangsung sampai perang dunia II. Dari dulu data statistik dapat dilihat antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1935 diterbitkan suatu katalog sebanyak 155,000 items. Sesudah tahun 1935 jumlah tersebut bertambah menjadi 195.000 berarti jumlah total 350.000 items. Dengan banyaknya daftar katalog barang yang dobel tersebut, berarti katalog-katalog yang dibuat tersebut tidak bermanfaat.
Selama perang dunia II dilingkungan pemerintah Amerika terdapat berbagai sistem katalog yang berbeda. Angkatan darat dan Marinir menggunakan sisem katalog yang berbeda. Demikian pula, dengan instansi militer lainnya menggunakan sistem sendiri-sendiri. Sesuai dengan perkembangan teknologi, banyak “new items” yang dihasilkan oleh pabrik dan masuk ke dalam sistem pembekalan militer. Barang baru yang masuk dalam pembekalan militer akhirnya tidak dapat dibina dengan baik. Banyak masalah baru yang timbul begitu kompleks, akibat dari setiap instansi militer membuat katalog dari suatu barang yang sama namun dengan nama dan nomor serta diskripsi yang berbeda. Jika adanya perbedaan dalam penyebutan nomor, serta deskripsi barang terhadap items yang sama mengakibatkan lemahnya atau tidak seragamnya dukungan pembekalan. Akibat dari ini maka orang-orang yang bertugas dalam sistem dukungan pembekalan selalu mendapat tugas yang tidak sukses.
Pada tanggal 18 Januari 1945 Roosevolt mengakui bahwa kesemrawutan katalog Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamanan negara. Pada saat itu pula diperintahkan seluruh Amerika untuk mengadakan persiapan guna melaksanakan komoditi katalog yang standard. Seluruh instasi pemerintah harus menggunakan katalog standar tersebut. Pada tanggal 3 Juli 1947 Angkatan Darat dan Angaktan Laut membentuk sistem cataloging yang sama. Pada tanggal 1 Juli 1952 dengan Undang-Undang nomor : 436 Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet” (Undang-Undang Katalogisasi dan Standarisasi Pertahanan).
Pada saat ini ditetapkan bahwa sistem penomoran barang menggunakan “Federal Stock Number” (FSN). Sistem katalog DOD dan Departemen Sipil berkembang menjadi sistem yang integral, sistem yang ini merupakan sistem yang luas dan terdiri dari berbagai kegiatan. Adalah sangat penting untuk membentuk wadah organisasi, menyusun tugas dan tanggung jawab organisasi tersebut dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembekalan. Kemudian setiap item harus diidentifikasi dan disusun deskripsinya. Akhirnya sistem katalog yang sudah mulai terbentuk harus jaga kelasungannya, sebab setiap hari terdapat “New Item” yang muncul maupun yang sudah tidak dipakai harus dihapus dari sistem katalog ini.
Pada tahun 1956 beberapa negara kelompok NATO ikut menggunakan sisteeem (FSN), mulailah kode Federal Stock Number (FSN) berubah menjadi “Nato Stock Number” (NSN). Pada tanggal 1 Januari 1962 “Defense Logistics Services Center” (DLSC) dibentuk. DLSC ini merupakan  pusat kegiatan katalog Amerika serta negara-negara NATO. Pada tahun 1965 seluruh katalog barang dengan stock number (baik yang Federal maupun NATO sistem) diproses dengan komputer. Pada tahun 1975 sistem NSN diresmikan pnggunaannya oleh pemerintah Amerika dan berlaku pula untuk negara-negara Eropa dalam bentuk blok NATO. Bulan-bulan berikutnya hampir seluruh negara Eropa (kecuali blok Timur) menggunakan NSN. Sistem ini kemudian diikuti oleh negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Indonesia (TNI AU) resmi menggunakan sistem ini mulai tahun 1983 (meskipun sebelumnya sudah menggunakan NSN).


Tujuan Katalog
Tujuan katalog perpustakaan pertama kali dikemukakan Cutter dalam Joner Hasugian pada tahun 1876, adapun tujuan atau objek katalog ialah:
1. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan :
a.            pengarangnya
b.            judulnya
c.            subjeknya
2. Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan
a.            oleh pengarang
b.            berdasarkan subjek tertentu, atau
c.            jenis literatur tertentu
3.  Membantu dalam pemilihan buku
a.            berdasarkan edisinya, atau
b.            berdasarkan karakternya (bentuk sastra atau topik)


Manfaat Katalog Dulu dan Kini
Manfaat katalog tersebut antara lain sebagai berikut ini:
Ø  Sebagai sarana untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada pada sebuah perpustakaan:
ü  Yang ditulis oleh pengarang tertentu
ü  Dengan judul tertentu
ü  Mengenai subjek tertentu
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada diperpustakaan lain.
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang beredar dipasaran.
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada dan diterbitkan disuatu negara.
Ø  Sebagai sarana pemilihan koleksi untuk perpustakaan.
Ø  Sebagai sarana promosi buku bagi toko buku atau penerbit.

Macam-macam katalog dulu yang sering ditemukan di perpustakaan adalah sebagai berikut:
1.     Katalog nasional adalah katalog yang memuat informasi mengenai dokumen yang diterbitkan oleh suatu negara dan disimpan pada suatu lokasi atau perpustakaan terntentu, biasanya diteritkan oleh perpustakaan terntu, biasanya diterbitkan oleh perpustakaan nasional suatu negara.
2.     Katalog berkas atau album dalam bahasa inggris disebut Sheaf Catalogue merupakan kumpulan kartu yang dijilid menjadi satu mirip buku atau album. Katalog ini dibuat dari kertas manila atau kertas biasa. Katalog berkas ini terdiri dari beberapa lembar kertas biasa yang diikat menjadi satu secara longgar saja.
3.     Katalog kartu merupakan katalog terbuat dari kartu berukuran 7,5x12,5 cm dengan ketebalan 0,025 cm digunakan diseluruh dunia disusun dalam laci yang merupakan bagian sebuah lemari.
4.     Katalog cetak atau katalog buku (Printed Catalog) bentuk katalog buku berupa daftar judul-judul bahan pustaka yang ditulis atau dicetak pada lembaran-lembaran yang berbentuk buku. Katalog ini sebenernya tidak fleksibel karena penyisipan dan pengeluaran entri katalog tidak mudah dilakukan.

Seiring berkembangnya dari zaman ke zaman, katalog buku pada awalnya dikenal yang sudah terbuat di dalam satu buku yang sudah dikarang sesuai dengan katalog golongan yang bagaimana. Katalog bentuk buku merupakan katalog yang tersusun dalam 1 buku. Disebut juga katalog tercetak dan merupakan bentuk katalog yang paling kuno. Katalog bentuk buku memiliki beberapa keuntungan, seperti mudah digunakan, dapat di bawa ke mana-mana, dan digandakan dengan mudah. Kerugiannya adalah, sekali dijilid, maka katalog buku menjadi usang, karena tambahan buku tidak dapat disisipkan ke entri yang sudah ada. Ketika dulu manusia masih belum mengenal adanya komputer dan jaringan internet, katalog yang digunakan manusia saat dulu adalah katalog yang berbentuk kertas yang tersusun menjadi sebuah buku.
Walaupun demikian, katalog saat itu sangat berguna untuk membatu kegiatan manusia yang diantaranya yaitu mendaftar barang – barang militer, yang saat itu katalog baru pertama kali dilakukan dan sangat dirasakan manfaat nya. Selanjutnya katalog zaman dulu juga digunakan dalam instansi pemerintah. Kini jika kita melihat katalog buku hanyalah selember kertas atau buku karena hampir semua perusahaan menggunakan katalog untuk promosi. Dan dibalik itu fungsi katalog produk atau barang bagi produsen atau penjual sangatlah penting. Karena selain berfungsi sebagai alat untuk menawarkan dan menjual produk, Katalog masih mempunyai beberapa fungsi lain yang sangat membantu bagi produsen maupun penjual, Apalagi bagi perusahaan produk busana atau fashion. Sehingga walaupun katalog buku terlihat sudah ketinggalan jaman namun masih tetep dipakai oleh perusahaan. Tidak hanya perusahaan yang menggunakan katalog buku, dimana sejak adanya katalog, perpustakaan juga telah menggunakan katalog dalam sistem diperpustakaan. Katalog buku biasanya dipakai untuk seleksi bahan pustaka di perpustakaan. Katalog buku dalam perpustakaan memiliki manfaat – manfaat yang sangat penting. Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1. Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan Pengarang, judul atau  Subyek,
2. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu berdasarkan subyek tertentu, atau dalam jenis literature tertentu
3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya berdasarkan karakternya

Dalam katalog buku juga memilki kekurangan yaitu katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.

Tidak hanya katalog buku, seiring berkembangnya zaman katalog juga ada yang sudah menggunakan jaringan internet yang memiliki artian Katalog Online. Katalog online adalah katalog yang data bibliografinya disimpan dalam database komputer. Untuk membuat katalog online dibutuhkan perangkat komputer dan program aplikasi tertentu karena ‘pemanggilan data’ dilakukan dengan menggunakan bahasa komputer. Contoh :Online Public Access Catalogue (OPAC). Penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya melalui judul, subjek, dan sebagainya yaitu dengan menggunakan penelusuran boolean logic.
Keuntungan lain dari adanya katalog online adalah penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan kapasitas besar yang memungkinkan input banyak muatan data bibliografis, penelusuran dapat dilakukan oleh banyak pengguna perpustakaan dalam waktu yang bersamaan tanpa saling mengganggu dan tidak sampai terjadi kerumunan atau antrian sebagaimana mungkin terjadi pada katalog manual, tidak perlu penjajaran tertentu sebagaimana katalog manual, data bibliografis yang dapat dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas. Katalog online ini mulai berkembang ketika mulai adanya komputer, data pustaka yang input dikomputer dirasa dapat memberikan kemudahan bagi manusia dalam menemukan buku. 
Ketika manusia yang menginginkan untuk mengakses katalog iklan maupun katalog pada perpustakaan, katalog online menjadi salah satu cara alternatif yang mudah dilakukan. Hal ini karena katalog online dapat dilihat dimana saja dan kapan saja. Tentu katalog online menjadi katalog yang paling laris digunakan oleh perusahaan -  perusahaan. Seperti pada web belanja online, yang hampir semua menggunakan katalog online untuk mempromosikan barangnya.

Ada beberapa cara untuk melakukan katalog dengan benar, yaitu :
v  Langkah pertama Descriptive Cataloging atau Katalogisasi deskriptif adalah langkah pertama dari proses katalogisasi. Ini berarti menggambarkan materi fisik dan menentukan pilihan akses poin (judul).
v  Langkah kedua yaitu Subject Cataloging atau Subjek Katalogisasi adalah Katalogisasi subjek Merupakan langkah kedua dari proses katalogisasi ini adalah
dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah untuk menetapkan judul  berdasarkan  abjad pada bahan dengan menggunakan  Sears Daftar Tajuk Subjek atau Library of Congress Subject Headings, dimana perpustakaan tertentu memilih. Bagian kedua adalah untuk menetapkan nomor klasifikasi materi dengan menggunakan Sears List of Subject Headings atau  Library of Congress Subject Headings, sekali lagi tergantung pada pilihan yang khusus Perpustakaan.
v  Langkah ketiga yaitu Subject Heading atau Tajuk subjek adalah kata atau kelompok kata yang menunjukkan subjek sebuah buku atau materi perpustakaan lainnya pada katalog atau bibliografi yang tersusun menurut abjad. Bila pada katalog berkelas, subjek sebuah buku ditunjukkan berdasarkan simbol klasifikasi maka pada katalog atau bibliografi sistem abjad, simbol klasifikasi digantikan dengan denominator subjek verbal. Misalnya pada katalog berkelas simbol klasifikasi Aljabar ditunjukkan pada notasi 510, maka pada tajuk subjek simbol klasifikasi tersebut diganti menjadi ALJABAR.
v  Langkah keempat yaitu Classification atau Klasifikasi ialah suatu kegiatan yang mengelompokkan benda yang memiliki beberapa ciri yang sama dan memisahkan benda yang tidak sama. Dalam kaitannya di dunia perpustakaan klasifikasi diartikan sebagai kegiatan pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang sama, misalnya pengarang, fisik, isi dsb. Pada dasarnya di perpustakaan dikenal ada 2 (dua) jenis kegiatan klasifikasi.


Kesimpulan
Seiring bergulirnya waktu perkembangan dan inovasi berdampak di berbagai aspek kehidupan. Begitupula dengan perpustakaan khususnya mengenai sistem temu kembali informasi, dalam hal ini adalah katalog perpustkaan. Dari segi jenis-jenisnya katalog dapat dibagi menjadi delapan, yaitu katalog induk, katalog kartu, katalog lembaran dan buku, katalog terpasang, katalog mikrofis, katalog nasional, katalog web OPAC dan katalog penerbit. Katalog perpustakaan berarti sistematika daftar buku atau bahan pustaka yang lain dalam perpustakaan yang memberi informasi tentang pengarang, judul, edisi, penerbit, tahun terbit, ciri fisik, isi dan lokasi bahan pustaka tersebut disimpan. Setiap katalog berkembang dari segi media maupun kandungan informasi yang dimiiki sehingga setiap katalog berkembang dari segi media maupun kandungan informasi yang dimiliki sehingga setiap katalog tersebut memiliki keunggulan sekaligus kekurangan masing-masing.


Daftar Pustaka
Yauwari Sylvia. (2010). Perkembangan katalogisasi. Diakses pada tanggal 11 Februari 2018 katalogisasi.blogspot.co.id/2010/11/sejarah-katalogisasi.html

Nikiartha. (2013). Katalog Online. Diakses pada tanggal 12 Februari 2018 https://nikiartha.wordpress.com/2013/01/19/katalog-online/

Komentar