Langsung ke konten utama

Manfaat Katalogisasi Dulu dan Kini

Manfaat Katalog : Dulu dan Kini

OLEH

Bintang Sandra Yunita Butar-Butar

1712312021

Program Studi D3 Perpustkaan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik


Abstrak

Katalog perpustakaan merupakan suatu media yang dapat menampilkan informasi sejumlah koleksi perpustakaan dan dengan mencari buku pada katalog yang terdapat di perpustakaan maka informasi mengenai buku yang dicari dapat diperoleh dengan mudah. Tetapi, terkadang terdapat suatu masalah ketika ingin memperoleh informasi tentang buku yang sedang dicari.
Berdasarkan pembuatan paper ini memiliki tujuan, diantaranya adalah agar pemanaatan katalog semakin dapat dimengerti dan dapat menjadi sumber informasi, agar dapat mengetahui bahwa katalog sebaagai tempat penyimpanan buku di rak dan untuk mengetahui koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan.  

Kata Kunci : Katalog, Informasi dan Perpustakaan


Latar Belakang
Secara etimologis, katalog berasal dari bahasa latin “catalogus” yang berarti daftar barang atau benda yang disusun untuk tujuan tertentu. Sedangkan menurut KBBI Offline, katalog adalah carik kartu, daftar, atau buku yang memuat nama benda atau informasi tertentu yang ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur dan alfabetis. Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 315), “katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi”.
Daftar menunjukkan susunan menurut prinsip tertentu dan sedangkan buku mencakup arti buku dalam arti luas”. Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Listariono (2011) katalog perpustakaan merupakan daftar buku atau bahan pustaka bentuk yang lain. Dalam katalog ini dimuat tentang nama pengarang, judul buku, edisim cetakan, kota terbit, penerbit dan tahun terbit. Dengan katalog perpustkaan ini pengguna perpustkaan dapat memperoleh sumber informasi yang dimiliki oleh perpustakaan.
Katalog adalah daftar koleksi sebuah pusat dokumentasi atau beberapa pusat dokumentasi yang disusun menurut sistem tertentu. Daftar tersebut dapat berbentuk kartu, lembaran, buku ataupun bentuk lainnya, yang memuat informasi mengenai pustaka atau kepustakaan yang terdapat di perpustakaan atau unit informasi. Adapun keterangan-keterangan yang dituliskan pada katalog adalah sebagai berikut :
§  Nama lengkap (dengan gelar-gelar kebangsawannya) dari si pengarang atau yang dianggap pengarang
§  Judul buku, jika ada judul tambahannya serta edisi
§  Tempat penerbit dan nama penerbitnya
§  Tahun terbit atau copy-right datenya
§  Jumlah halaman pendahuluan (angka romawi) dan jumlah halamana isi (angka arab). Jumlah halaman bisa diganti dengan jumlah jilid yang ada, jika buku-buku itu berjilid
§  Keterangan (notes) contoh: app;digr;graf
§  Keterangan tentang halaan bibliografi
§  Call-number buku (biasanya ditentukan pada awal proses buku)
§  Nomor stambuk buku (pada pinggir kiri bawah kartu)
§  Tracing
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa katalog perpustakaan adalah daftar yang berisi seluruh berbagai koleksi di perpustakaan yang disusun menurut sistem tertentu melalui cantuman bibliograis sehingga diharapkan para pemustaka dan pustakawan dapat menemukan bahan perpustakaan yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat.


Sejarah dan Perkembangan Katalog
Pada tahun 1914 Angkatan Laut Amerika mulai embuat daftar barang-barang militer. Daftar ini kemudian dipublikasikan oleh “Naval Depot Supply and Stock Catalog”. Meskipun katalog tersebut masih merupakan tindakan percobaan, namun Angkatan Laut Amerika merasakan bahwa manfaat katalog tersebut sangat besar dalam penentuan perang dunia I. Dari pengalaman perang ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem katalog yang seragam akan sangat bermanfaat. Pada tahun 1929, sistem katalog yang tadinya dimulai di Angkatan Laut, kemudian berkembang dilingkungan pemerintah Amerika. Pada tahun ini pula Presiden Hoover memutuskan bahwa “Federal Standard Stock Catalog” untuk pemerintah berada dalam Departemen Keuangan. Pada saat itu di lingkungan militer, tidak terdapat barang-barang umum. Sedangkan dinas-dinas lainnya mengidentifikasi dan mengklarifikasi barang dengan cara sendiri-sendiri dengan sistem yang berbeda. Yang penting beberapa instasi ini mempunyai katalog barang mereka sendiri.
Pada tahun 1932 Presiden Roosevelt berusaha menggembangkan sistem katalog di Amerika yang seragam. Dan pada tahun 1935 Presiden memutuskan suatu peraturan bahwa “Federal Standard Stock Catalog” diberikan untuk seluruh negara Amerika, ini berarti bahwa sistem catalog yang seragam mutlak perlu dilaksanakan dalam setiap Departemen. Dengan demikian, setiap departemen dalam hal pemberian nama, diskripsi, klasifikasi serta penomoran barang dalam sistem katalog harus menggunakan cara yang seragam dengan ketetntuan ini sistem katalog di Amerika sudah berjalan, namun kenyataannya masing-masing instansi masih menggunakan caranya sendiri dalam mengkatalogkan barang. Sistem ini berlangsung sampai perang dunia II. Dari dulu data statistik dapat dilihat antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1935 diterbitkan suatu katalog sebanyak 155,000 items. Sesudah tahun 1935 jumlah tersebut bertambah menjadi 195.000 berarti jumlah total 350.000 items. Dengan banyaknya daftar katalog barang yang dobel tersebut, berarti katalog-katalog yang dibuat tersebut tidak bermanfaat.
Selama perang dunia II dilingkungan pemerintah Amerika terdapat berbagai sistem katalog yang berbeda. Angkatan darat dan Marinir menggunakan sisem katalog yang berbeda. Demikian pula, dengan instansi militer lainnya menggunakan sistem sendiri-sendiri. Sesuai dengan perkembangan teknologi, banyak “new items” yang dihasilkan oleh pabrik dan masuk ke dalam sistem pembekalan militer. Barang baru yang masuk dalam pembekalan militer akhirnya tidak dapat dibina dengan baik. Banyak masalah baru yang timbul begitu kompleks, akibat dari setiap instansi militer membuat katalog dari suatu barang yang sama namun dengan nama dan nomor serta diskripsi yang berbeda. Jika adanya perbedaan dalam penyebutan nomor, serta deskripsi barang terhadap items yang sama mengakibatkan lemahnya atau tidak seragamnya dukungan pembekalan. Akibat dari ini maka orang-orang yang bertugas dalam sistem dukungan pembekalan selalu mendapat tugas yang tidak sukses.
Pada tanggal 18 Januari 1945 Roosevolt mengakui bahwa kesemrawutan katalog Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamanan negara. Pada saat itu pula diperintahkan seluruh Amerika untuk mengadakan persiapan guna melaksanakan komoditi katalog yang standard. Seluruh instasi pemerintah harus menggunakan katalog standar tersebut. Pada tanggal 3 Juli 1947 Angkatan Darat dan Angaktan Laut membentuk sistem cataloging yang sama. Pada tanggal 1 Juli 1952 dengan Undang-Undang nomor : 436 Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet” (Undang-Undang Katalogisasi dan Standarisasi Pertahanan).
Pada saat ini ditetapkan bahwa sistem penomoran barang menggunakan “Federal Stock Number” (FSN). Sistem katalog DOD dan Departemen Sipil berkembang menjadi sistem yang integral, sistem yang ini merupakan sistem yang luas dan terdiri dari berbagai kegiatan. Adalah sangat penting untuk membentuk wadah organisasi, menyusun tugas dan tanggung jawab organisasi tersebut dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembekalan. Kemudian setiap item harus diidentifikasi dan disusun deskripsinya. Akhirnya sistem katalog yang sudah mulai terbentuk harus jaga kelasungannya, sebab setiap hari terdapat “New Item” yang muncul maupun yang sudah tidak dipakai harus dihapus dari sistem katalog ini.
Pada tahun 1956 beberapa negara kelompok NATO ikut menggunakan sisteeem (FSN), mulailah kode Federal Stock Number (FSN) berubah menjadi “Nato Stock Number” (NSN). Pada tanggal 1 Januari 1962 “Defense Logistics Services Center” (DLSC) dibentuk. DLSC ini merupakan  pusat kegiatan katalog Amerika serta negara-negara NATO. Pada tahun 1965 seluruh katalog barang dengan stock number (baik yang Federal maupun NATO sistem) diproses dengan komputer. Pada tahun 1975 sistem NSN diresmikan pnggunaannya oleh pemerintah Amerika dan berlaku pula untuk negara-negara Eropa dalam bentuk blok NATO. Bulan-bulan berikutnya hampir seluruh negara Eropa (kecuali blok Timur) menggunakan NSN. Sistem ini kemudian diikuti oleh negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Indonesia (TNI AU) resmi menggunakan sistem ini mulai tahun 1983 (meskipun sebelumnya sudah menggunakan NSN).


Tujuan Katalog
Tujuan katalog perpustakaan pertama kali dikemukakan Cutter dalam Joner Hasugian pada tahun 1876, adapun tujuan atau objek katalog ialah:
1. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan :
a.            pengarangnya
b.            judulnya
c.            subjeknya
2. Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan
a.            oleh pengarang
b.            berdasarkan subjek tertentu, atau
c.            jenis literatur tertentu
3.  Membantu dalam pemilihan buku
a.            berdasarkan edisinya, atau
b.            berdasarkan karakternya (bentuk sastra atau topik)


Manfaat Katalog Dulu dan Kini
Manfaat katalog tersebut antara lain sebagai berikut ini:
Ø  Sebagai sarana untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada pada sebuah perpustakaan:
ü  Yang ditulis oleh pengarang tertentu
ü  Dengan judul tertentu
ü  Mengenai subjek tertentu
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada diperpustakaan lain.
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang beredar dipasaran.
Ø  Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada dan diterbitkan disuatu negara.
Ø  Sebagai sarana pemilihan koleksi untuk perpustakaan.
Ø  Sebagai sarana promosi buku bagi toko buku atau penerbit.

Macam-macam katalog dulu yang sering ditemukan di perpustakaan adalah sebagai berikut:
1.     Katalog nasional adalah katalog yang memuat informasi mengenai dokumen yang diterbitkan oleh suatu negara dan disimpan pada suatu lokasi atau perpustakaan terntentu, biasanya diteritkan oleh perpustakaan terntu, biasanya diterbitkan oleh perpustakaan nasional suatu negara.
2.     Katalog berkas atau album dalam bahasa inggris disebut Sheaf Catalogue merupakan kumpulan kartu yang dijilid menjadi satu mirip buku atau album. Katalog ini dibuat dari kertas manila atau kertas biasa. Katalog berkas ini terdiri dari beberapa lembar kertas biasa yang diikat menjadi satu secara longgar saja.
3.     Katalog kartu merupakan katalog terbuat dari kartu berukuran 7,5x12,5 cm dengan ketebalan 0,025 cm digunakan diseluruh dunia disusun dalam laci yang merupakan bagian sebuah lemari.
4.     Katalog cetak atau katalog buku (Printed Catalog) bentuk katalog buku berupa daftar judul-judul bahan pustaka yang ditulis atau dicetak pada lembaran-lembaran yang berbentuk buku. Katalog ini sebenernya tidak fleksibel karena penyisipan dan pengeluaran entri katalog tidak mudah dilakukan.

Seiring berkembangnya dari zaman ke zaman, katalog buku pada awalnya dikenal yang sudah terbuat di dalam satu buku yang sudah dikarang sesuai dengan katalog golongan yang bagaimana. Katalog bentuk buku merupakan katalog yang tersusun dalam 1 buku. Disebut juga katalog tercetak dan merupakan bentuk katalog yang paling kuno. Katalog bentuk buku memiliki beberapa keuntungan, seperti mudah digunakan, dapat di bawa ke mana-mana, dan digandakan dengan mudah. Kerugiannya adalah, sekali dijilid, maka katalog buku menjadi usang, karena tambahan buku tidak dapat disisipkan ke entri yang sudah ada. Ketika dulu manusia masih belum mengenal adanya komputer dan jaringan internet, katalog yang digunakan manusia saat dulu adalah katalog yang berbentuk kertas yang tersusun menjadi sebuah buku.
Walaupun demikian, katalog saat itu sangat berguna untuk membatu kegiatan manusia yang diantaranya yaitu mendaftar barang – barang militer, yang saat itu katalog baru pertama kali dilakukan dan sangat dirasakan manfaat nya. Selanjutnya katalog zaman dulu juga digunakan dalam instansi pemerintah. Kini jika kita melihat katalog buku hanyalah selember kertas atau buku karena hampir semua perusahaan menggunakan katalog untuk promosi. Dan dibalik itu fungsi katalog produk atau barang bagi produsen atau penjual sangatlah penting. Karena selain berfungsi sebagai alat untuk menawarkan dan menjual produk, Katalog masih mempunyai beberapa fungsi lain yang sangat membantu bagi produsen maupun penjual, Apalagi bagi perusahaan produk busana atau fashion. Sehingga walaupun katalog buku terlihat sudah ketinggalan jaman namun masih tetep dipakai oleh perusahaan. Tidak hanya perusahaan yang menggunakan katalog buku, dimana sejak adanya katalog, perpustakaan juga telah menggunakan katalog dalam sistem diperpustakaan. Katalog buku biasanya dipakai untuk seleksi bahan pustaka di perpustakaan. Katalog buku dalam perpustakaan memiliki manfaat – manfaat yang sangat penting. Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1. Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan Pengarang, judul atau  Subyek,
2. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu berdasarkan subyek tertentu, atau dalam jenis literature tertentu
3. Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya berdasarkan karakternya

Dalam katalog buku juga memilki kekurangan yaitu katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.

Tidak hanya katalog buku, seiring berkembangnya zaman katalog juga ada yang sudah menggunakan jaringan internet yang memiliki artian Katalog Online. Katalog online adalah katalog yang data bibliografinya disimpan dalam database komputer. Untuk membuat katalog online dibutuhkan perangkat komputer dan program aplikasi tertentu karena ‘pemanggilan data’ dilakukan dengan menggunakan bahasa komputer. Contoh :Online Public Access Catalogue (OPAC). Penelusuran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya melalui judul, subjek, dan sebagainya yaitu dengan menggunakan penelusuran boolean logic.
Keuntungan lain dari adanya katalog online adalah penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat, tepat dan kapasitas besar yang memungkinkan input banyak muatan data bibliografis, penelusuran dapat dilakukan oleh banyak pengguna perpustakaan dalam waktu yang bersamaan tanpa saling mengganggu dan tidak sampai terjadi kerumunan atau antrian sebagaimana mungkin terjadi pada katalog manual, tidak perlu penjajaran tertentu sebagaimana katalog manual, data bibliografis yang dapat dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas. Katalog online ini mulai berkembang ketika mulai adanya komputer, data pustaka yang input dikomputer dirasa dapat memberikan kemudahan bagi manusia dalam menemukan buku. 
Ketika manusia yang menginginkan untuk mengakses katalog iklan maupun katalog pada perpustakaan, katalog online menjadi salah satu cara alternatif yang mudah dilakukan. Hal ini karena katalog online dapat dilihat dimana saja dan kapan saja. Tentu katalog online menjadi katalog yang paling laris digunakan oleh perusahaan -  perusahaan. Seperti pada web belanja online, yang hampir semua menggunakan katalog online untuk mempromosikan barangnya.

Ada beberapa cara untuk melakukan katalog dengan benar, yaitu :
v  Langkah pertama Descriptive Cataloging atau Katalogisasi deskriptif adalah langkah pertama dari proses katalogisasi. Ini berarti menggambarkan materi fisik dan menentukan pilihan akses poin (judul).
v  Langkah kedua yaitu Subject Cataloging atau Subjek Katalogisasi adalah Katalogisasi subjek Merupakan langkah kedua dari proses katalogisasi ini adalah
dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah untuk menetapkan judul  berdasarkan  abjad pada bahan dengan menggunakan  Sears Daftar Tajuk Subjek atau Library of Congress Subject Headings, dimana perpustakaan tertentu memilih. Bagian kedua adalah untuk menetapkan nomor klasifikasi materi dengan menggunakan Sears List of Subject Headings atau  Library of Congress Subject Headings, sekali lagi tergantung pada pilihan yang khusus Perpustakaan.
v  Langkah ketiga yaitu Subject Heading atau Tajuk subjek adalah kata atau kelompok kata yang menunjukkan subjek sebuah buku atau materi perpustakaan lainnya pada katalog atau bibliografi yang tersusun menurut abjad. Bila pada katalog berkelas, subjek sebuah buku ditunjukkan berdasarkan simbol klasifikasi maka pada katalog atau bibliografi sistem abjad, simbol klasifikasi digantikan dengan denominator subjek verbal. Misalnya pada katalog berkelas simbol klasifikasi Aljabar ditunjukkan pada notasi 510, maka pada tajuk subjek simbol klasifikasi tersebut diganti menjadi ALJABAR.
v  Langkah keempat yaitu Classification atau Klasifikasi ialah suatu kegiatan yang mengelompokkan benda yang memiliki beberapa ciri yang sama dan memisahkan benda yang tidak sama. Dalam kaitannya di dunia perpustakaan klasifikasi diartikan sebagai kegiatan pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang sama, misalnya pengarang, fisik, isi dsb. Pada dasarnya di perpustakaan dikenal ada 2 (dua) jenis kegiatan klasifikasi.


Kesimpulan
Seiring bergulirnya waktu perkembangan dan inovasi berdampak di berbagai aspek kehidupan. Begitupula dengan perpustakaan khususnya mengenai sistem temu kembali informasi, dalam hal ini adalah katalog perpustkaan. Dari segi jenis-jenisnya katalog dapat dibagi menjadi delapan, yaitu katalog induk, katalog kartu, katalog lembaran dan buku, katalog terpasang, katalog mikrofis, katalog nasional, katalog web OPAC dan katalog penerbit. Katalog perpustakaan berarti sistematika daftar buku atau bahan pustaka yang lain dalam perpustakaan yang memberi informasi tentang pengarang, judul, edisi, penerbit, tahun terbit, ciri fisik, isi dan lokasi bahan pustaka tersebut disimpan. Setiap katalog berkembang dari segi media maupun kandungan informasi yang dimiiki sehingga setiap katalog berkembang dari segi media maupun kandungan informasi yang dimiliki sehingga setiap katalog tersebut memiliki keunggulan sekaligus kekurangan masing-masing.


Daftar Pustaka
Yauwari Sylvia. (2010). Perkembangan katalogisasi. Diakses pada tanggal 11 Februari 2018 katalogisasi.blogspot.co.id/2010/11/sejarah-katalogisasi.html

Nikiartha. (2013). Katalog Online. Diakses pada tanggal 12 Februari 2018 https://nikiartha.wordpress.com/2013/01/19/katalog-online/

Komentar