Sejarah
dan Perkembangan Klasifikasi Secara Umum
OLEH
Bintang
Sandra Yunita Butar-Butar
1712312021
Program
Studi D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Abstrak
Kata
klasifikasi tidak muncul secara mendadak, melainkan hadir melalui suatu proses
mulai dari pengetahuan sehari-hari dan dengan melalui pengujian secara cermat
dan pembuktian dengan teliti diperoleh terhadap suatu teori, dan pengujian
suatu teori tersebut dapat dilakukan dan babak terakhir akan dapat ditemukan
hukum-hukum dari klasifikasi tersebut. Tujuan dari pembuatan penulisan makaah
ini adalah untuk dapat mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana saja
perkembangan dan sejarah dari klasifikasi
Sejarah
sebagai maniestasi ilmu pengetahuan telah meletakkan dasar-dasar tradisi intelektual
yang diawali oleh Aristoteles dimulai pada abad ke 384 SM sampai pada abad ke
322 SM. Dalam perkembangannya sejarah mengantarkan lahirnya suatu klasifikasi
yang menunjukkan bagaimana cabang-cabang ilmu pengetahuan melepaskan diri dari
keterkaitannya terhadap yang lain. Klasifikasi tersebut memiliki cara
masing-masing secara mandiri dan berkembang menurut metodologinya secara
sendiri-sendiri. Paper ini membahas tentang kelahiran dan perkembangan ilmu
klasifikasi.
Kata
Kunci : Sejarah Ilmu, Perkembangan dan Klasifikasi
Latar
Belakang
Pada awal sejarah
berkembangnya klasifikasi dikenal melalui klasifikasi tumbuhan, hewan dan
klasifikasi makhluk hidup. Menurut beberapa ahli sejarah tentang perkembangan
klasifikasi, diantaranya yaitu :
·
Aristoteles (384 – 322 SM), mengelompokkan
makhluk hidup menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan dan hewan. Tumbuhan
dikelompokkan menjadi herba, semak dan pohon. Sedangkan hewan digolongkan
menjadi vertebrata dan avertebrata.
·
John Ray (1627 – 1708), mengelompokkan makhluk
hidup kearah grup-grup kecil. Ia telah melahirkan konsep tentang jenis dan
spesies.
·
Carolus Linnaeus (1707 – 1778), mengelompokkan
makhluk hidup berdasarkan pada kesamaan struktur. Ia juga mengenalkan pada
sistem tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial nomenklatur.
Klasifikasi
ilmiah adalah cara ahli biologi mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari
organisme yang punah maupun yang hidup. Jadi menurut kesimpulan yang didapat,
klasifikasi adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi
golongan atau unit tertentu. Klasifikasi makhluk hidup ini memiliki tujuan
yaitu untuk mempermudah mengenali, membandingkan dan mempelajari makhluk hidup.
Membandingkan
berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup.
Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang
dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya.
Makhluk hidup yang memiliki ciri yang sama dikelompokkan pada satu golongan.
Biasanya, para ahli Biologi membuat cabang Biologi khusus mengenai klasifikasi
makhluk hidup yang dapat disebut sebagai Taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang
mengidentifikasi tentang tatanama dan klasifikasi makhluk hidup berdasarkan
aturan tertentu. Seperti yang diketehui klasifikasi makhluk hidup menggunakan
dasar atau ketentuan tertentu, yaitu persamaan ciri atau sifat morfologi,
fisiologi dan anatomo yang terdapat pada makhluk hidup itu sendiri. Sistem
klasifikasi makhluk hidup terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya di Taksonomi. Pada zaman ini, telah diketahui adanya 3 sistem
klasifikasi makhluk hidup yaitu :
- - Sistem Alami
- - Sistem Artifisial (Buatan)
- - Sistem Filogenetik
Makhluk
hidup yang ada dibumi sangat banyak dan beranekaragam. Bahkan di setiap daerah-daerah
yang ada di Indonesia memiliki ciri atau jenis makhluk hidup yang khas dan
berbeda dengan makhluk hidup lainnya dan jarang atau bahkan ada yang sama.
Tetapi dengan adanya keanekaragaman makhluk hidup ini yang dapat memaju suatu
masalah dalam mengenal dan mempelajari nya.
Dengan demikian, diperkukan suatu sistem yang mengatur keanekragaman
yang ada pada saat ini. Ilmu Taksonomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang
klasifikasi, identifikasi dan tatanama makhluk hidup. Seperti yang kita ketahui,
dengan adanya masalah keanekaragaman Tokoh Yunani mencetuskan mengenai Ilmu
Taksonomi tersebut adalah Theoprates pada tahun 370-285 SM yang kemudian
dikembangkan oleh salah satu tokoh dari Swedia.
Pada
umumnya klasifikasi memiliki pengertian yang secara khusus dengan mudah
dimengerti. Klasifikasi menurupaan suatu cara penyusunan, penggolongan ataupun
pengelompokkan sesuatu golongan atau sesuatu jenis agar menjadi sistematis.
Klasifikasi ini memiliki tujuan berupa untuk mempermudah pengenalan dan pembelajaran
terhadap makhluk hidup dan dapat mempermudah dalam berkomunikasi kepada orang
lain. Klasifikasi banyak diterapkan dalam berbagai kegiatan manusia.
Pengertian
Klasifikasi
Menurut
Wikipedia, klasifikasi merupakan kata serapan dari Bahasa Belanda, classificatie yang sendirinya berasal
dari Bahasa Prancis classification. Istilah
ini menunjukkan kepada sebuah metode untuk menyusun data secara sistematis atau
menurut beberapa aturan atau kaidah yang telah ditetapan sebelumnya. Secara
harafiah dapat dikatakan bahwa klasifikasi adalah pembagian sesuatu menurut
kelas-kelas. Sedangkan menurut Ilmu Pengentahuan, klasifikasi adalah proses
pengelompokkan benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan tertentu. Secara harafiah bias pula dikatakan Klasifikasi adalah suatu cara
pengelompokan yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi
menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun
hewan yang memiliki persamaan struktur.
Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan
dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam
kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John
Ray yang berasal dari Inggris. Namun ide itu disempurnakan oleh Carl
Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan
Swedia yang dikenal pada masa sekarng dengan Carolus Linnaeus. Klasifikasi ilmiah menunjuk bagaimana seorang ahli biologi
mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun
yang hidup. Klasifikasi modern berakar pada sistem Carolus Linnaeus, yang
mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki.
Pengelompokan ini sudah direvisi sejak Carolus Linnaeus untuk menjaga
konsistensi dengan asas sifat umum yang diturunkan dari Darwin. Mempelajari jenis-jenis makhluk hidup tidak mudah dan dipastikan
kita harus mengetahui dan mengenal apa-apa saja yang menjadi pengelompokkan
makhluk hidup.
Perkembangan
Klasifikasi
Pada masa sejarah dan
perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup dibagi menjadi 6 sistem berdasarkan cara
pemilihan sifat dalam penyusunan klasifikasi, adapun pembagian tersebut yaitu:
Ø Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua
Dalam periode ini
secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada
kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal
kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan,
manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam
lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang
berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa
yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah
orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting
seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan
telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah
dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta
bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun
yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan
pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah
menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi
yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai
system buatan yang tertua.
Jelaslah bahwa sejak
berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan
taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum
begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat,
sehingga belum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran
sekarang.
Ø Periode system Habitus/ Bentuk
Taksonomi tumbuhan
sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh
orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) seorang murid
dari filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf
Yunani yang semashur yaitu plato. Aristoteles adalah filusuf Yunani
(384-422) adalah orang yang pertama merintismengadakan klasifikasi
hewanberdasarkan ciri-cirinya. Dia berhasil mengelompokan seribu jenis hewan
tang dikenalnya. Oleh sebab itu, dia dijuluki bapa zoologi. Pengklasifikasian tumbuhan terutama
didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut
dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna.
System klasifikasi ini
bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad
pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan
filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat
kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan
antara golongan yang terbentuk.Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai
bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah
memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan.
Dalam karya ini system
klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru
dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system
klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan
pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan
pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual),
tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang
(perennial). Theophrastes juga
telah dapat membedakan bunga majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak
berbatas (centripetal), juga telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota
yang bebas (polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau
simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang
tenggelam dan yang menumpang.
Ø Periode Sistem Buatan/ Artificial
Periode ini terjadi
pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang murni
artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas
tumbuhan. Sistem ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai
dasar utama pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai
kekerabatan antara tumbuhan. Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus
Linneaus) Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama
kali mengenai seksualitas tumbuhan.
Setelah menjadi dosen
ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus Uplandikus yang
memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala, yang
susunannya mengikuti sistem de Tournefort. Karena jumlah tumbuhan dikebun raya
tadi makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikusedisi
baru yang disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema
Sexsuale atau sistem seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan
naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson menawarkan kepada Linneaus untuk
membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae yang
memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun
1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera
Plantarum dan Flora Lavonica sambil menunggu
pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi kesempatan oleh Clifford untuk
berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama sembilan bulan ia
menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis
tumbuhan yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda
dari tahun 1737 sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus.
Kurang lebih ada 14
judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan
ketika ia masih di Swedia. Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari
linneaus selain spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia
mengundurkan diri sebagai guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia
setelah menderita sakit selama kurang lebih 2 tahun (10 januari 1778). Sistem klasifikasi tumbuhan yang
diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial.
Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya
tidak begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada
masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti
jumlah benangsari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus
seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenangsari dua),
triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi
tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan Linnaeus ini
meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan
pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem ini
sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia
juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam
bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei
1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang
diakui.Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta
tatanama ganda. Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh
caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunyapinax theatri
botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena
besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi
umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus
mendapatkan gelar sebagai “Bapak Taksonomi” baik hewan maupun
tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja
swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne
diubah menjadi karl von linne.
Ø Periode Sistem Alamiah
Menjelang berakhirnya
abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam
pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem
alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural)
bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin
pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara
harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak
begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem
buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan
nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan
manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem
sebelumnya.
Ø Periode Sistem Filogenetik
Teori evolusi, teori
desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan
suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih
dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan
cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori
ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi
adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh
karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “. Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk
mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan
golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga
menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi
dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini
lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem
klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli
biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.
Ø Sistem Klasifikasi Kontemporer
Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan
berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan
untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam
pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial
yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum
mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di capai dengan
penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan
teknologi, khususnya di bidang elektronika yang dalam abad nuklir maju dengan
pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa
dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode
penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer
pula. Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode
kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam
taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau
taksonometri. Pengolahan data secara
elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk
berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan
pengambilan laporan-laporan atau informasi.
Penerapan
Klasifikasi pada Perpustakaan
Bermula dari kegiatan
sehari – hari, klasifikasi menjadi sesuatu yang sangat penting. Klasifikasi
sangat diperlukan dalam perpustakaan karena klasifikasi dapat
mempermudah pustakawan maupun pengunjung dalam mencari buku ataupun menata
buku. Ini jelas terjadi, karena jika klasifikasi tidak diterapkan di
perpustakaan maka buku – buku yang berbeda jenis akan
dicampur adukkan sehingga membutuhakan waktu yang cukup lama dalam
mencari buku yang diinginkan.
Terbukti dengan
semakin berkembangnya perpustakaan yang mengembangkan klasifikasi
membuat para pengunjung perpustakaan semakin puas dalam mencari buku. Informasi
dan perpustakaan sangat erat kaitannya, karena dalam perpustakaan informasi
merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh pustakawan ataupun
perpustakaan itu sendiri. Seseorang yang membutuhkan pengetahuan ataupun
informasi akan keperpustakaan untuk mendapatkannya.Sehingga klasifikasi dalam
informasi dan perpustakaan sangat penting dan perlu terus diterapkan. Dalam
kegiatan manusia, teknologi informasi menjadi suatu kegiatan yang sudah sangat
biasa dilakukan.
Seiring perkembangan
zaman yang terjadi. Teknologi informasi merupakan teknologi yang digunakan
untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan informasi. Namun
teknologi informasi juga dapat menimbulkan masalah diantarannya hak
cipta, perlindungan data, transborder data flow, dan pengangguran. Maka
pengarsipan data dan teks merupakan tugas tradisional perpustakaan.
Perpustakaan bertugas menyimpan kumulasi pengetahuan masyarakat sekitar.
Disamping itu juga perpustakaan juga bertugas untuk mempersiapkan cantuman
bibliografi dari dokumen berisi pengetahuan yang dihasilkan masyarakat. Perpustakaan
yang merupakan tempat untuk meminjam buku, file, data – data dan juga tempat
untuk mencari informasi. Perpustakaan juga merupakan tempat untuk menyimpan
karya tulis ataupun ilmu pengetahuan lainnya.
Dengan hal ini,
perpustakaan merupakan tempat yang sangat penting yang harus ada, karena
perpustakaan merupakan tempat gudangnya ilmu pengetahuan. maka dari itu, sangat
pentingnya dilakukan klasifikasi data- data yang ada di perpustakaan untuk
mempermudahnya kegiatan di perpustakaan. Penerapan klasifikasi pada
perpustakaan dimulai dari hal yang sederhana, dimana saat itu masih dilakukan
pengelompokkan buku – buku secara sederhana. Setelah itu
barulah terciptanya sistem DDC. DDC merupakan singkatan dari Dewey Decimal
Classification.
DDC merupakan klasifikasi ciptaan abad ke-19
yang dibuat atas prinsip taksonomis dan hirarkhis. DDC menduduki peringkat
pertama yang paling banyak digunakan. DDC merupakan klasifikasi yang digunakan
pada perpustakaan, bukan klasifikasi yang digunakan untuk ilmu pengetahuan
lainnya. Perkembangan klasifikasi yang begitu pesat membuat terjadi perubahan –
perubahan yang ada pada klasifikasi. Ini membuat beberapa perbedaan yang
terjadi pada klasifikasi tradisional dengan klasifikasi modern. Klasifikasi
tradisonal cenderung untuk mendaftar ( to enumerate ) semua subjek dan
subdivisi subjek serta menyatakan simbol bagi setiap subjek. Klasifikasi ini
disebut klasifikasi enumeratif. Contohnya yaitu Library of Congress
Classification. Sedangkan untuk klasifikasi modern menekankan pentingnya faset
analisis dan sintesis, klasifikasi ini disebut klasifikasi berfaset. Contohnya
yaitu Colon Classification atau klasifikasi analisi dan sintesis.
Penggunaan DDC tidak
sembarangan dapat digunakan oleh perpustakaan. Karena dalam DDC, perpustakaan
harus mengikuti unsur – unsur yang berlaku dalam menggunakan DDC. Hal ini
tentunya harus sangat diperhatikan dalam penggunaannya, agar nanti tidak
mengalami kendala – kendala yang dapat menghambat dalam penggunaan DDC. Unsur –
unsur yang harus dipenuhi dalam penggunaan DDC ( Noprianto, 2014 ) yaitu :
v Sistem pembagian ilmu
pengetahuan yang dimasukkan dalam bagan harus mempunyai landasan
prinsip-prinsip tertentu.
v Notasi, ini merupakan
rangkaian simbol seperti angka dan harus mencerminkan istilah yang terdapat
dalam bagan, pada DDC ini dikenal dengan nomor kelas.
v Indeks relatif,
rincian dari sejumlah tajuk yang disusun secara alfabetis.
v Tabel pembantu,
menerang rangkaian notasi khusus untuk menyatakan aspek tertentu dalam subjek
yang berbeda. Sistem klasifikasi juga perlu menyediakan kelas karya umum,
seperti karya yang cakupannya begitu luas.
Sebagai sarana pengaturan pustaka dirak,
klasifikasi memiliki 2 tujuan yaitu:
·
Membantu pemakai mengidentikkan dan melokalisasi sebuah dokumen berdasarkan
nomor panggil.
·
Mengelompokkan semua dokumen sejenis menjadi satu. Tujuan dari klasifikasi
tersebut membutuhkan karakteristik tertentu untuk mengumpulkan bahan
pustaka menjadi satu. Misalnya pengelompokkan berdasarkan nama pengarang.
Dalam perpustakaan klasifikasi
bertujuan untuk menghasilkan urutan dokumen yang bermanfaat bagi staf ataupun
pemakai perpustakaan, penepatan dokumen yang tepat, maksudnya ketika suatu
dokumen/buku diambil, dan akan terjadi kekosongan didalam rak yang mengharuskan
klasifikasi menyusun kembali, Penyusunan mekanisme, maksudnya dimana pustakawan
mampu menyisipkan dokumen baru diantara dokumen lama, Tambahan dokumen baru,
dimana pustakawan harus mengklasifikasi dokumen baru dengan menentukan lokasi
yang tepat antara disisipkan diantara subjek yang telah ada ataupun membuat yang
baru.
Sehingga dalam dunia
perpustakaan sangat diperlukannya klasifikasi yang nantinya sangat berguna
untuk mempermudah kegiatan diperpustakaan. Hal tersebut membuktikan jika
klasifikasi sangat penting dilakukan. Dengan melihat dari hal tersebut, bahwa
klasifikasi berawal dari kegiatan sehari – hari manusia dalam mengelompokkan
suatu benda atau yang lainnya sehingga dapat mempermudah kegiatannya yang
terus berkembang hingga diterapkan dalam instansi – instansi bahkan
juga digunakan di perpustakaan.
Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan
makalah yang ada diatas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi merupakan bentuk
dari kegiatan/aktivitas manusia yang berawal dari dalam kehidupan sehari-hari
agar lebih dapat mempermudah kegiatannya tersebut. Klasifikasi bertujuan untuk
menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaragaman dan keseragaman.
Kesamaan-kesamaan
atau keseragaman itulah yang nantinya menjadi dasar dalam pengklasifikasian
jadi suatu takson atau suatu unit yang mempunyai sejumlah kesamaan-kesamaan
sifat. Klasifikasi makhluk hidup juga merupakan pengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan jenis dan cara mereka berkembang biak.
Saran
Saran
saya kepada pembaca agar lebih belajar buat mengetahui bagaimana dan sudah
sampai dimana saja perkembangan mengenai klasifikasi itu sendiri, terutama pada
klasifikasi makhluk hidup. Karena begitu banyak keanekaragaman yang ada di
Indonesia ini dan mempelajari klasifikasi tidaklah mudah. Tetapi dengan adanya
klasifikasi makhluk hidup ini kita lebih mudah mengetahui jenis-jenis apa saja
yang sudah ada di muka bumi ini.
Daftar
Pustaka
Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar
Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Aristo, Mukhamad. Sistem
Klasifikasi Makhluk Hidup dan Sejarahnya. Diakses 8 Februari 2018
Dedi. Sejarah Klasifikasi. Diakses 9 Februari 2018 http://dedispd.blogspot.co.id/2010/06/sejarah-klasifikasi.html
Komentar
Posting Komentar